Dalam postingan ke-VI ini saya akan membahas info yang saya dapat tentang sakit kepala Cluster, yang kebetulan saya sering mengalaminya jika terlambat makan dan kurang tidur. Berikut pembahasannya, semoga bermanfaat..:)

DEFINISI

Sakit kepala cluster adalah satu dari tipe sakit kepala yang paling menyakitkan. Ciri yang mencolok dari sakit kepala cluster adalah sakit kepala ini terjadi dalam siklus atau rangkaian – apapun nama kondisi tersebut.

Pertarungan pada frekuensi serangan sakit kepala – disebut periode cluster – dari yang mingguan ke bulanan, biasanya terdiri dari periode ketika serangan sakit kepala berhenti. Pola dari satu orang ke orang lain bervariasi, tapi banyak orang memiliki satu atau dua periode cluster setahun. Pada saat periode berhenti, tidak akan ada rasa sakit di kepala untuk sebulan, dan terkadang setahun.

Beruntungnya, sakit kepala cluster adalah hal yang langka dan tidak mengancam nyawa. Pengobatan dapat membantu membuat lamanya serangan menjadi lebih pendek dan sakit yang lebih sedikit. Sebagai tambahan, pencegahan secara medis dapat membantu mengurangi sakit kepala.

GEJALA

Sakit kepala cluster menyerang dengan cepat, biasanya tanpa peringatan. Tanda dan gejala khususnya adalah:
•    Sakit yang mengerikan, biasanya terdapat pada atau sekitar mata, tapi dapat merambat pada area lain di wajah, kepala, leher dan pundak.
•    Sakit pada satu sisi
•    Kegelisahan
•    Keluar air mata secara berlebihan
•    Mata merah sebagai efek samping
•    Lendir atau basah pada lubang hidung sebagai efek samping pada wajah
•    Berkeringat, kulit pucat pada wajah
•    Bengkak di sekitar mata sebagai efek samping pada wajah
•    Ukuran pupil yang mengecil
•    Kelopak mata yang layu

Sakit pada sakit kepala cluster sering digambarkan sebagai rasa sakit yang tajam, menusuk atau membakar. Orang dengan kondisi ini berkata bahwa rasa sakit terasa seperti alat pengorek api yang panas pada mata atau bola mata serasa terdorong keluar. Orang dengan sakit kepala cluster muncul kegelisahan, menyukai kecepatan atau duduk dan berayun maju mundur untuk menenangkan rasa sakit. Kontras dengan orang dengan migrain, orang dengan sakit kepala cluster biasanya menghindari posisi berbaring karena dapat meningkatkan rasa sakit.
Beberapa gejala mirip migrain, termasuk mual, sensitive terhadap cahaya dan suara, dan pancaran, yang mungkin terjadi dengan sakit kepala cluster.

Saat periode cluster:

•    Sakit kepala terjadi setiap hari, terkadang beberapa kali sehari.
•    Satu serangan dapat terjadi dari 15 menit sampai 3 jam.
•    Serangan terjadi pada waktu yang sama setiap 24 jam.
•    Serangan biasa terjadi antara jam 9 malam dan jam 9 pagi.

Rasa sakit biasanya berkhir tiba-tiba seperti munculnya, dengan cepat intensitasnya berkurang. Setelah serangan, banyak orang bebas sepenuhnya dari rasa sakit akan tetapi muncul perasaan lelah.

Penyebab

Penyebab pasti sakit kepala cluster tidak diketahui, tetapi ketidak normalan pada hypothalamus sepertinya berperan. Serangan cluster terjadi seperti rutinitas harian, dan siklus periode cluster sering mengikuti musim dalam setahun. Pola ini menunjukkan pola jam biologis tubuh terlibat. Pada manusia, jam biologis tubuh terdapat pada hypothalamus, yang berada di dalam pada tengah otak. Ketidaknormalan hypothalamus menerangkan waktu dan siklus alami sakit kepala cluster. Penelitian mendeteksi peningkatan aktifitas pada hypothalamus menajdi sumber sakit kepala cluster.

Faktor lain yang mungkin juga terlibat adalah:
•    Hormon. Orang dengan sakit kepala cluster memiliki ketidaknormalan tingkat hormon tertentu, seperti melatonin dan cortisol, terjadi saat periode cluster.
•    Neurotransmitter. Berubahnya tingkat beberapa reaksi kimia yang membawa impuls syaraf pada otak (neurotransmitter), seperti serotonin, mungkin memiliki peran dalam tumbuhnya sakit kepala cluster.

Tidak seperti migrain atau sakit kepala karena ketegangan, sakit kepala cluster umumnya tidak berkaitan dengan pemicu seperti makanan, perubahan hormon atau stress. Tapi sekali periode cluster mulai, mengkonsumsi alkohol dapat dengan cepat memicu pecahnya sakit kepala. Untuk alasan ini, banyak orang dengan sakit kepala cluster menghindari alkohol pada saat durasi periode cluster. Pemicu lain yang mungkin juga termasuk adalah penggunaan obat medis, seperti nitroglycerin, obat yang digunakan untuk penyakit jantung.

Faktor Risiko

•    Laki-laki. Lelaki lebih mungkin dari pada wanita untuk memiliki sakit kepala cluster.
•    Orang dewasa. Banyak orang dengan sakit kepala cluster pertama kali muncul pada saat usia akhir 20an, meskipun kondisi ini dapat berkembang pada usia berapapun.
•    Merokok. Kebanyakan orang yang mengalami sakit serangan kepala cluster adalah perokok.
•    Minum alkohol. Alkohol dapat memicu serangan jika anda memiliki risiko sakit kepala cluster.
•    Catatan keluarga. Jika orang tua atau saudara kandung memiliki sakit kepala cluster, anda dapat mengalami peningkatan risiko sakit kepala cluster.

Pengobatan simtomatik :

1. Oksigen

Menghirup oksigen 100 % melalui sungkup wajah dengan kapasitas 7 liter/menit memberikan kesembuhan yang baik pada 50 sampai 90 % orang-orang yang menggunakannya. Terkadang jumlah yang lebih besar dapat lebih efektif. Efek dari penggunaannya relatif aman, tidak mahal, dan efeknya dapat dirasakan setelah sekitar 15 menit. Kerugian utama dari penggunaan oksdigen ini adalah pasien harus membawa-bawa tabung oksigen dan pengaturnya, membuat pengobatan dengan cara ini menjadi tidak nyaman dan tidak dapat di akses setiap waktu. Terkadang oksigen mungkin hanya menunda daripada menghentikan serangan dan rasa sakit tersebut akan kembali.

2. Sumatriptan

Obat injeksi sumatriptan yang biasa digunakan untuk mengobati migraine, juga efektif digunakan pada cluster headache. Beberapa orang diuntungkan dengan penggunaan sumatriptan dalam bentuk nasal spray namun penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan untuk menentukan keefektifannya.

3. Ergotamin

Alkaloid ergot ini menyebabkan vasokontriksi pada otot-otot polos di pembuluh darah otak. Tersedia dalam bentuk injeksi dan inhaler, penggunaan intra vena bekerja lebih cepat daripada inhaler dosis harus dibatasi untuk mencegah terjadinya efek samping terutama mual, serta hati-hati pada penderita dengan riwayat hipertensi.

4. Obat-obat anestesi lokal

Anestesi lokal menstabilkan membran saraf sehingga sel saraf menjadi kurang permeabel terhadap ion-ion. Hal ini mencegah pembentukan dan penghantaran impuls saraf, sehingga menyebabkan efek anestesi lokal. Lidokain intra nasal dapat digunakan secara efektif pada serangan cluster headache. Namun harus berhati-hati jika digunakan pada pasien-pasien dengan hipoksia, depresi pernafasan, atau bradikardi.

Obat-obat profilaksis :

1. Anti konvulsan

Penggunaan anti konvulsan sebagai profilaksis pada cluster headache telah dibuktikan pada beberapa penelitian yang terbatas. Mekanisme kerja obat-obat ini untuk mencegah cluster headache masih belum jelas, mungkin bekerja dengan mengatur sensitisasi di pusat nyeri.

2. Kortikosteroid

Obat-obat kortikosteroid sangat efektif menghilangkan siklus cluster headache dan mencegah rekurensi segera. Prednison dosis tinggi diberikan selam beberapa hari selanjutnya diturunkan perlahan. Mekanisme kerja kortikosteroid pada cluster headache masih belum diketahui.

Pembedahan

Pembedahan di rekomendasikan pada orang-orang dengan cluster headache kronik yang tidak merespon dengan baik dengan pengobatan atau pada orang-orang yang memiliki kontraindikasi pada obat-obatan yang digunakan. Seseorang yang akan mengalami pembedahan hanyalah yang mengalami serangan pada satu sisi kepal saja karena operasi ini hanya bisa dilakukan satu kali. Orang-orang yang mengalami serangan berpindah-pindah dari satu sisi ke sisi yang lain mempunyai resiko kegagalan operasi.

Ada beberapa tipe pembedahan yang dapat dilakukan untuk mengobati cluster headache. Prosedur yang dilakukan adalah merusak jalur saraf yang bertanggungjawab terhadap nyeri.

Blok saraf invasif ataupun prosedur bedah saraf non-invasif (contohnya radio frekuensi pericutaneus, gangliorhizolisis trigeminal, rhizotomi) telah terbukti berhasil mengobati cluster headache. Namun demikian terjadi efek samping berupa diastesia pada wajah, kehilangan sensoris pada kornea dan anestesia dolorosa.

Pembedahan dengan menggunakan sinar gamma sekarang lebih sering digunakan karena kurang invasif. Metode baru dan menjanjikan adalah penanaman elektroda perangsang dengan menggunakan penunjuk jalan stereostatik di bagian inferior hipotalamus. Penelitian menunjukkan bahwa perangsangan hipotalamus pada pasien dengan cluster headache yang parah memberikan kesembuhan yang komplit dan tidak ada efek samping yang signifikan.

Prognosis

  1. 80 % pasien dengan cluster headache berulang cenderung untuk mengalami serangan berulang.
  2. Cluster headache tipe episodik dapat berubah menjadi tipe kronik pada 4 sampai13 % penderita.
  3. Remisi spontan dan bertahan lama terjadi pada 12 % penderita, terutama pada cluster headache tipe episodik.
  4. Umumnya cluster headache adalah masalah seumur hidup.
  5. Onset lanjut dari gangguan ini teruama pada pria dengan riwayat cluster headache tipe episodik mempunyai prognosa lebih buruk.

Pencegahan

Dikarenakan penyebab sakit kepala cluster tidak diketahui, anda tidak dapat mencegah kejadian pertamanya. Bagaimanapun, strategi pencegahan krusial untuk mengatur sakit kepala cluster karena memperlakukannya dengan obat-obatan akut sama saja tidak berguna. Pencegahan dapat menolong mengurangi risiko dan tingkat keparahan serangan dan risiko peningkatan sakit kepala. Pencegahan dengan pengobatan medis dapat juga meningkatkan efektifitas pengobatan medis akut.
Sebagai tambahan, anda dapat mengurangi risiko terkena serangan dengan menghindari nikotin dan alkohol, yang sering mempercepat sakit kepala cluster.

Sumber :

http://health.kompas.com

http://micymicy.blogspot.com

http://norma07dp.wordpress.com

About aan1794

Respect Your Self

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s